Jumat, 23 November 2007

Dari Sarasehan Pameran Tunggal Lukisan BES

‘’Saya Belum Melukis, Baru Menggambar’’

Jiwa seni tak boleh mati, meski profesi dan rutinitas bisa saja berbeda. Contohnya Bambang Edy Sutrisno. Meski kesibukannya sehari-hari sebagai Kepala SMAN 1, Rengel, Tuban, tidak membuatnya berhenti berkarya. Dalam rangka Hari Jadi Tuban tahun ini, seminggu ia memamerkan 50 lebih hasil karyanya selama 10 tahun terakhir. Dan pekan lalu, pameran itu ditutup dengan sarasehan yang tidak hanya diikuti seniman dari Tuban saja, namun juga perupa senior dari Malang Drs Yon Wahyuono.

Bagi warga Tuban, nama Bambang Edy Sutrisno memang tidak asing lagi. Sebab, selain sebagai kepala sekolah, sebelumnya ia seorang jurnalis harian di Jawa Timur yang cukup lama malang melintang di Kota Ronggolawe itu. Karena itulah, saat digelar sarasehan tentang seni rupa sebagai penutup acara pameran, tak hanya seniman saja yang hadir. Pemerhati seni, kolektor, bahkan wartawan dari Tuban pun hadir. Termasuk Pimpinan Redaksi Tabloid Wisata, Malang.
Rata-rata mereka memberikan acungan jempol kepada BES, demikian biasa ia dipanggil. Sebab, kesibukannya sebagai kepala sekolah, tidak menyurutkan niatnya untuk ‘’mengkanvaskan’’ apa yang ia lihat dalam kehidupan sehari-hari. Dari 53 karya yang ditampilkan, hampir 90 persen berbicara tentang keindahan.
Dari bukit-bukit kapur di Tuban, pohon-pohon aren, sampai bocah mandi di laut pun tak lepas dari goresan BES. Kecintaannya terhadap tumbuh-tumbuhan pun ia pindahkan dalam kanvas. Sehingga wajar kalau pameran tunggal ini mengangkat tema ‘’Tuban Indah dalam Kanvas’’.
Pujian pun terucap dari nara sumber Drs Yon Wahyuono, dedengkot perupa dari Sanggar Arti, Malang. Sebab jarang seniman yang sudah bergelut dalam profesi lain dapat berkarya seperti BES. ‘’Yang penting seniman itu harus berkarya dalam media apa saja, soal baik atau buruk hasilnya, itu soal lain,’’ katanya memberi semangat.
Demikian juga dr. Bambang Lukmantono SH MM. sebagai pemerhati seni dan kolektor lukisan, ia pun memuji kegigihan BES dalam berkarya. Menurut dr. Bambang, apa yang telah dilakukan BES merupakan inspirator bagi seniman lain untuk tidak berhenti berkarya.
Salah seorang yang hadir sempat menanyakan tentang aliran yang dianut BES dalam berkarya. Sebab dilihat dari apa yang ditampilkan, tidak jelas aliran apa yang dianut BES. ‘’Apakah surealisme, realis atau dekoratif, masih belum jelas,’’ katanya.
Mendapat pertanyaan seperti itu, BES dengan rendah hati mengatakan bahwa ia belum melukis, namun masih dalam taraf menggambar. ‘’Saya hanya memindahkan apa yang tampak ke dalam kanvas. Bagi saya, melukis memerlukan penjiwaan,’’ katanya. oso






Naik BMW di Atas Trailer

Dilihat sepintas penampilannya, orang pasti tahu bahwa ia seorang seniman. Rambut panjang sebahu, kumis melintang, celana jeans dipadu dengan T’shirt, membuat Masdibyo, memang tongkrongans eniman.
Begtiulah seniman. Entah lantaran biar dibilang nyentrik atau karena ingin tampil beda, ia sempat berulah dan membuat orang terheran-heran. Mau tahu?? Ia pernah naik BMW dari Bandung ke Tuban. Itu masih biasa. Yang tidak biasa, BMW-nya dinaikkan trailer, dan ia duduk santai di dalam mobilnya itu.
Begini ceritanya. Waktu itu nekad ia ikut pameran di Bandung. Padahal saat itu ia sering diolok teman-temannya sesama seniman, bahwa karyanya akan dipandang sebelah mata oleh kolektor di sana. Sebab, ia akan berhadapan seniman-seniman top Kota kembang itu.
Tapi apa mau dikata, salah satu lukisannya justru ditukar oleh seorang kolektor dengan BMW yang masih kinyis-kinyis. Apa mau cari sensasi, kalau maniki mobilnya itu di atas trailer? ‘’Ah enggak, saya Cuma eman-eman saja kalau membawa mobil itu sendiri,’’ katanya enteng.
Padahal untuk menyewa trailer dari bandung ke Tuban itu, ia harus merogoh kocek tak kurang dari Rp 6 juta.
Dari pengalaman pameran di Bandung itulah ia menegaskan, bahwa seniman harus punya merek, agar dihargai karyanya. Dan untuk sampai tingkat itu, memang tidak mudah dan harus melalui jalan yang cukup panjang, seperti yang dia alami. ‘’Karya saya sekarang ada yang seharga Rp 1 miliar,’’ kata Masdibyo bangga.





Tidak ada komentar: